Aberdeen (Minggu 2)

A City Tour Part 2 – 13 November 2015

Aberdeen ternyata punya berbagai tempat menarik untuk dikunjungi yang tentunya tidak bisa ditamatkan dalam satu hari dan dengan berjalan kaki. Seminggu setelah city tour yang pertama, saya menyempatkan untuk berkeliling Aberdeen sekali lagi sebelum pergi meninggalkan kota ini.

Judulnya adalah Jalan-Jalan Sore karena memang saya lakukan sore hari dan memang benar-benar JALAN. Tujuan utama saya adalah Duthie Park dan Winter Gardens. Setelah itu, saya pergi ke Union Square karena janji dengan seorang teman untuk berbelanja disana.

Old Deeside Railway Line, Duthie Park dan David Welch Winter Gardens

image

Bekas jalur kereta yang kini biasa dijadikan track untuk jogging maupun bersepeda

Old Deeside Railway Line merupakan bekas jalur kereta yang terbentang sejauh 66 kilometer dari Aberdeen hingga Aberdeenshire. Jalur kereta ini dibuka pada tahun 1853 dan ditutup pada tahun 1966. Sekarang, jalur ini telah berubah menjadi  Deeside Way dan biasa digunakan warga Aberdeen untuk jogging, bersepeda bahkan berkuda.

Honestly, saya mengetahui jalur ini dari Google Maps karena saat itu saya mencari jalan tercepat untuk berjalan kaki dari penginapan saya menuju Duthie Park. Saya baru mengetahui bahwa jalur yang saya lewati merupakan bekas jalur kereta setelah saya menemukan tanda Deeside Way di sisi jalan.

Deeside Way berujung di Duthie Park. Dibuka pada tahun 1883, lahan taman ini dihibahkan oleh Miss Elizabeth Crombie Duthie of Ruthrieston sebagai bentuk memorial bagi paman dan saudara laki-lakinya. Taman ini terkenal dengan David Welch Winter Gardens-nya, dimana terdapat koleksi berbagai tanaman tropis dan kaktus.

image

Koleksi bunga di rumah kaca David Welch Winter Gardens

Dengan luas 44 acre, Duthie Park dapat dibilang sebagai ruang terbuka yang luas. Sebagian besar area taman ini ditutupi rumput hijau. Banyak warga yang membawa anak dan/atau anjing mereka untuk bermain di taman ini. Di tengah taman terdapat sebuah band-stand bergaya Victoria yang sudah ada sejak tahun 1893.

image

Suasana sore hari yang cerah (pada musim gugur) di Duthie Park

Di bagian barat taman ini terdapat danau yang dahulu sangat populer sebagai tempat untuk berperahu. Dinamakan The Linked Lake, danau ini sebenarnya menghubungkan 3 bagian danau, upper (sebagai boating pond), middle, dan lower. Saat saya kesana sedang diadakan restorasi terhadap danau ini.

Karena hari semakin senja, saya melanjutkan perjalanan saya menyusuri River Dee. Pemandangan di sepanjang sungai ini nyaman untuk dipandang. Langit sore itu bersih dan warna senja benar-benar tergambar. Banyak warga yang jogging atau pun sekadar berjalan-jalan bersama keluarga dan anjing mereka.

image

River Dee dan jembatan tertua di Skotlandia

Dari kejauhan, saya bisa melihat Bridge of Dee. Dibangun pada abad ke-16, jembatan ini menjadi yang tertua di Skotlandia. Dapat terlihat bahwa jembatan ini terdiri dari 7 busur dengan lebar masing-masing 50 kaki. Bridge of Dee menghubungkan jalan dari Aberdeen menuju Stonehaven di Aberdeenshire.

Union Street dan Union Square

Saya menyebrangi Bridge of Dee untuk bisa naik bis menuju Union Square. Namun karena bis yang saya tunggu terlalu lama dan hari sudah semakin malam, akhirnya saya memutuskan untuk memanggil taksi.

Hingga pada akhirnya sampailah saya di Union Square. Bicara tentang Union Square, tidak mungkin lepas dari Union Street. Union Street merupakan jalan utama kota Aberdeen dimana sepanjang jalannya terdapat pertokoan, restoran, bank, dan gereja. Berbagai brand ternama seperti Marks and Spencer, Hugo Boss, Debenhams, dan lainnya mendirikan toko mereka di Union Street. Brand ternama lainnya dapat juga ditemukan di berbagai shopping center yang (masih) berada di Union Street.

Saya di depan Gilcomston South Church di Union Street

Salah satu shopping center yang saya kunjungi bersama teman adalah Union Square. Tujuan utama kami adalah T.K.Maxx. Alasannya sederhana: DISCOUNT. Mereka menjual berbagai macam pakaian, dari kaos, sweater, sampai winter coat serta sepatu boots. Saya juga mengenali beberapa brand ternama (meskipun sepertinya stock lama) dijual dengan harga miring (dibandingkan dengan harga rata-rata di toko). Prinsip-nya mungkin seperti factory outlet di Indonesia. Selain pakaian, mereka juga menjual berbagai macam tas, hingga coklat.

Selain T.K. Maxx, ada juga toko Cath Kidston, H&M, Superdry, Fossil, Next, dll. Teman saya dari Angola sampai memborong banyak di H&M (katanya karena di Angola belum ada H&M). Harga H&M-nya saya rasa hampir mirip dengan harga di Indonesia. Saya juga sempat menonton James Bond: Spectre yang saat itu baru release. Rasa penasaran membuat saya rela membayar 10 GBP untuk tiket film itu. Tapi di tengah film, saya malah tertidur. Hiks.

Pengalaman lain di Union Street yang tidak kalah menarik adalah saat saya mencoba restoran Spanyol dan Polandia. Meskipun saya lupa nama makanannya, tapi saya ingat bahwa rasanya sangat unik. Begitu juga dengan dekorasi restoran dan cara penyajian makanannya. Saya sangat terkesan dengan service di restoran Polandia. Pelayannya sangat ramah dengan bahasa Inggrisnya yang mudah dimengerti (karena saya rasa dia adalah orang asli Polandia).

Mencoba kuliner khas Spanyol

Restoran Polandia dan rasa makanannya yang unik

Sekian cerita saya selama di Aberdeen. Tinggal selama 2 minggu disana menimbulkan kesan tersendiri untuk saya. Saya bertemu dengan banyak orang baru dengan sifatnya yang beragam, melihat budaya baru, pergi ke tempat-tempat baru (tidak lagi gunung dan pantai), menghadapi cuaca baru dengan suhu terendah yang pernah saya alami sebagai orang tropis, dan bahkan bertemu dengan badai.

Tanggal 14 November saya pergi pagi sekali menuju Union Square Bus Station untuk melanjutkan perjalanan saya ke ibu kota Skotlandia, Edinburgh. Saya harap saya bisa segera menuangkannya di part lain dari UK series ini.

Thanks for reading 😀

Advertisements

Aberdeen (Minggu 1)

Aberdeen, terkenal juga sebagai the Granite City, merupakan salah satu kota terkenal di Skotlandia. Dikenal sebagai the Granite City karena sebagian besar bangunannya terbuat dari granit abu-abu. Beberapa referensi mengatakan bahwa pada musim panas kota ini terlihat sangat indah karena granit-granit ini, yang banyak mengandung mika, dapat memantulkan cahaya matahari.

Pada November 2015, saya mendapat kesempatan untuk pergi ke kota ini selama 2 minggu. Di bulan ini, musim di Aberdeen memasuki late autumn. Didominasi oleh hujan, angin, dan mendung membuat Aberdeen terlihat “gelap”. Suhu terendah yang pernah saya alami selama di sana mencapai 2.5 deg C (cukup membuat saya, orang tropis, menggigil di hari-hari pertama).

Penginapan saya, berada di Great Western Road, yang letaknya tidak jauh dari city center Aberdeen. Namanya adalah The Spires. Konsep penginapan ini lebih seperti apartemen dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruang TV, dan dapur. Di dapur juga tersedia mesin cuci pakaian dan mesin cuci piring.

image

Dapur dan peralatannya yang lengkap di The Spires

Aberdeen’s Fireworks Display – 5 November 2015

Untuk menyambut musim dingin, Aberdeen mengadakan event besar, yaitu the Winter Festival. Festival ini dibuka dengan perayaan kembang api pada tanggal 5 November 2015. Karena saya tidak kebagian taksi, karena sudah full booked, akhirnya saya memutuskan untuk naik bis (kira-kira 2.2 GBP sekali jalan) ke Union Street (di City Center) dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Beach Esplanade tempat berlangsungnya fireworks display ini.

Union Street dipadati rombongan yang berjalan kaki menuju Beach Esplanade. Pertokoan yang biasanya tutup pada jam 17.00 GMT, pun buka sampai lebih larut (mungkin juga karena hari itu adalah Kamis, yang katanya merupakan hari berbelanja Aberdeen).

Beach Esplanade dapat diraih dengan 20 menit berjalan kaki. Layaknya festival pada umumnya, kawasan ini padat para calon penonton dan penjual kios-kios makanan, seperti hot dog, kopi hangat, fish and chips, dll. Atraksi Fire Juggling pun telah lebih dulu dimulai sebagai bentuk pembukaan.

Tepat pukul 19.30 GMT, fireworks display dimulai. Meskipun hujan disertai angin kencang dari North Sea, dinginnya tidak begitu terasa dibandingkan melihat warna-warni kembang api (sepertinya saya tidak pernah melihat kembang api semenarik itu di Indonesia).

image

Aberdeen’s Firework Display yang tetap meriah di tengah hujan

Selepas 20 menit berlangsung, firework display pun usai. Tak terasa perut mulai berbunyi karena belum sempat makan malam. Saya pun pergi ke sebuah restauran mie di Union Street. Pada awalnya saya sudah membayangkan mie kuah yang hangat dan gurih (seperti In**mie), namun begitu mie-nya datang tidak ada kuah dan rasa gurih. Mie di restauran ini seperti mie diguyur topping (sesuai selera anda, misalnya barbeque, king prawn, etc) dan rasanya manis. Lumayan untuk mengganjal perut meskipun rasanya berbeda dengan selera mie di Indonesia.

Aberdeen City Tour – 7 November 2015

A weekend well-spent.

Cerita weekend saya dihabiskan untuk berkeliling kota Aberdeen. Tujuan saya kali ini adalah Aberdeen Maritime Museum, Footdee, dan University of Aberdeen. Kalau mau hemat dana, kita bisa saja berjalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan. Namun, pilihan ini kurang tepat jika ingin menghemat waktu atau di kala sedang hujan atau angin kencang atau bahkan udara sangat sedang dingin. Sebagai jalan tengahnya, kita bisa memilih naik bis.

Tiket bis bisa dibeli langsung di supir bis pada saat kita naik. Biaya yang dibutuhkan berkisar antara 2-3 GBP dari tempat menginap saya di Great Western Road menuju City Center Union Street (menggunakan First Platinum no 19; kalau menggunakan Stagecoach 201 atau 202 bisa lebih murah). Uang pas sangat disarankan jika ingin membeli tiket langsung ke supir bis karena supir bis tidak menyediakan kembalian (kecuali untuk Stagecoach). Oiya, untuk mengetahui rute bis menuju tempat tujuan, saya biasanya memilih menggunakan bantuan Google Maps.

Aberdeen Maritime Museum

Tujuan pertama saya adalah Aberdeen Maritime Museum karena lokasinya dekat sekali dengan pusat kota. Museum ini berada di Shiprow, dekat dengan pelabuhan. Saya naik bis ke Union Street, turun di Broad Street Bus Stop, dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Museum ini (begitu juga dengan museum-museum lain di UK pada umumnya) buka pada jam 10.00 GMT (Senin-Sabtu, Minggu buka jam 12.00 GMT) dan free admission, alias GRATIS.

Aberdeen Maritime Museum berisi koleksi-koleksi yang menceritakan cerita antara Aberdeen dan North Sea, salah satunya adalah bidang perminyakan, cocok dengan bidang pekerjaan saya. Beberapa koleksinya antara lain ROV (Remotely Operated Vehicle), replika platform, diving suit (untuk bekerja di bawah laut, misalnya pengelasan kaki-kaki platform), hingga dokumentasi bencana Piper Alpha.

image

Salah satu koleksi diving suit di Aberdeen Maritime Museum

Dari pintu masuk, saya langsung menuju resepsionis untuk mengisi buku tamu serta bertanya beberapa hal mengenai museum ini, terutama ketentuan berkeliling museum ini (misalnya izin mengambil foto). Pengambilan foto diperbolehkan kecuali untuk beberapa event exhibition tertentu.

image

Pelabuhan terlihat dari jendela (di bangunan bekas gereja) Aberdeen Maritime Museum

image

Berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dunia pelayaran

Di lantai dasar juga tersedia museum shop, jika ingin berbelanja souvenir khas Aberdeen Maritime Museum, serta museum cafe yang cukup nyaman.

Footdee (Fittie)

Footdee, dikenal juga sebagai Fittie, merupakan sebuah daerah pemukiman nelayan yang terletak di ujung timur pelabuhan Aberdeen.

Dalam kondisi hujan gerimis dan dingin, akhirnya saya memulai perjalanan jalan kaki saya menuju Footdee dari Aberdeen Maritime Museum dengan menyusuri jalan di samping pelabuhan. Menurut perkiraan Google Maps, waktu yang harus ditempuh kesana sekitar 24 menit.

Awalnya saya ragu untuk meneruskan perjalanan saya ke Footdee karena kawasan ini dapat dibilang sepi pejalan kaki. Saya juga harus melalui kawasan industri perkapalan dan gudang-gudang penyimpanan logistik industri perminyakan. Tapi niat untuk melihat rumah-rumah unik di Footdee menguatkan saya untuk terus berjalan (selama Google Maps masih menemani). Akhirnya jalanan pun mulai terasa ramai ketika saya melewati gate pelabuhan (nampaknya ada kapal yang akan berangkat).

Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gate pelabuhan tersebut, sampai lah saya di Footdee. Well, kawasan ini sangat sepi. Hampir tidak ada orang yang lalu lalang (mungkin karena waktu itu sedang gerimis). Yang menarik dari kawasan pemukiman ini adalah rumah-rumahnya yang mungil dan penuh dekorasi.

image

Rumah-rumah mungil lengkap dengan dekorasi unik khas Footdee

Di ujung pemukiman ini, saya dapat melihat pertemuan antara River Dee dengan North Sea. Nampaknya jalur ini pula lah yang menjadi akses masuk dan keluar kapal-kapal di pelabuhan. Di sini juga lah anda dapat menemukan Footdee War Memorial dan Aberdeen Dock Labourers Memorial.

Footdee War Memorial merupakan tugu sederhana yang terbuat dari granit yang berfungsi sebagai tugu peringatan bagi korban Perang Dunia I dan juga Perang Dunia II. Sedangkan Aberdeen Dock Labourers Memorial terdiri atas 2 panel yang masing-masing berisikan nama, inisial, dan kesatuan unit para korban perang. Panel atas berisikan nama para korban Perang Dunia I, sedangkan panel bawah untuk korban Perang Dunia II.

image

Pertemuan antara River Dee dan North Sea

University of Aberdeen

Saya kembali ke Union Street untuk mencari makan siang. Setelah perut saya kenyang, saya berniat untuk mencari souvenir khusus Aberdeen. Saya akhirnya pergi ke Scotland’s Bothy di George Street.

Scotland’s Bothy menjual berbagai macam souvenir khas Skotlandia, mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, wool, sampai kilt, rok tradisional pria khas Skotlandia. Karena budget yang terbatas, saya hanya membeli beberapa magnet kulkas seharga 2-3 GBP per buah. Toko ini buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 5 sore, kecuali hari Kamis (09.00-19.00) dan Minggu (12.00-16.00).

Beranjak dari Scotland’s Bothy, perjalanan dilanjutkan menuju University of Aberdeen. Universitas ini cukup tenar dan digandrungi teman-teman saya yang memilih melanjutkan post graduate di bidang perminyakan. Dari Scotland’s Bothy saya membutuhkan 20 menit berjalan kaki menuju universitas tertua ketiga di Skotlandia ini.

Universitas ini merupakan gabungan antara King’s College dan Marischal College. Saat ini King’s College merupakan gedung utama yang digunakan untuk aktivitas perkuliahan. Bangunan-bangunan perkuliahan King’s College terkenal dengan arsitekturnya, salah satunya adalah King’s College Chapel, kapel utama yang digunakan oleh University of Aberdeen.

image

King’s College Chapel

Menurut saya, kawasan University of Aberdeen ini merupakan kawasan yang tenang dan nyaman. Banyak terdapat taman dengan bangunan-bangunan berarsitektur kuno yang indah. Rasanya menyenangkan kalau bisa bersekolah di sini. Karena saya berkunjung di hari Sabtu, kawasan kampus ini cukup sepi, namun saya masih melihat beberapa mahasiswa berkeliaran di sekitaran kampus. Rasanya jadi rindu masa-masa kuliah.

Tidak jauh dari King’s College Chapel, terdapat Cathedral Church of St. Machar. Konon katanya, (hanya) lengan William Wallace dikuburkan di dinding gereja ini. Gereja ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa uskup Aberdeen.

image

Cathedral Church of St. Machar

Perjalanan keliling kota Aberdeen saya akhiri di depan Sir Duncan Rice Library. Perpustakaan milik University of Aberdeen ini dibuka dan diresmikan pada tahun 2012. Arsitekturnya yang modern terlihat stand out di antara konsep bangunan lain di sekitarnya. Dari depan perpustakaan ini, saya bisa naik bis no. 19 langsung menuju tempat saya menginap di Great Western Road.

image

Perpustakaan Sir Duncan Rice