Stonehaven

Untuk mengisi waktu luang di akhir pekan, saya bersama seorang teman merencanakan kunjungan ke Stonehaven (Scots: Steenhive), sebuah kota di Aberdeenshire. Kota ini hanya berjarak kurang lebih 24 km di selatan Aberdeen.

Berangkat dari Union Square Bus Station, perjalanan kami tempuh hanya sekitar 45 menit menggunakan bis Stagecoach X7. Harga tiketnya sekitar 7-8 GBP untuk day-rider zone 3. Tiket harian ini dapat digunakan kembali jika kami ingin naik atau turun bis di zona yang sama tanpa harus membayar lagi termasuk jika kami ingin kembali ke Aberdeen. Jika dibandingkan dengan tiket single-trip yang harganya 5 GBP untuk sekali perjalanan Aberdeen-Stonehaven, tiket ini tentunya jauh lebih menguntungkan.

image

Beberapa yacht terlihat bersandar di Pelabuhan Stonehaven

 

Dunnottar Castle

Tujuan pertama kami di Stonehaven adalah Dunnottar Castle. Kastil ini merupakan destinasi yang paling populer di Stonehaven (top-rated things to do di Stonehaven versi Trip Advisor).

Bis X7 mengantarkan kami hingga bus stop terdekat dengan kawasan wisata ini. Kami langsung disambut dengan angin kencang dan gerimis begitu turun dari bis. Memang sejak pagi cuacanya kurang bagus untuk piknik. Dengan berjalan sekitar 5 menit, kami sudah sampai di tempat parkir. Di sekelilingnya kami dapat melihat restoran dan toko souvenir. Saya langsung membayangkan coklat panas yang cocok dinikmati pada cuaca seperti ini.

Dunnottar Castle tidak langsung dapat dilihat dari tempat parkir. Inilah yang membuat kami bingung pada awalnya. Ternyata kami harus berjalan lagi mengikuti pathway yang ada. Tampak beberapa rombongan yang juga berjalan bersama kami. Setelah beberapa langkah, Dunnottar Castle pun akhirnya terlihat di kejauhan.

Sejak dibangun pada abad pertengahan, kastil ini telah melalui berbagai sejarah. Salah satu kisah terkelamnya adalah ketika kastil ini dijadikan penjara bagi 167 Covenanter. 122 laki-laki dan 45 perempuan, terutama dari bagian selatan dan barat Skotlandia yang ditangkap pada masa pemerintahan Charles II karena menghadiri upacara keagamaan secara terbuka, dipindahkan dari Edinburgh menuju kastil ini pada tahun 1685. Mereka dikurung di salah satu bagian kastil, yaitu Whig Vault. Banyak dari mereka meninggal dunia karena kelaparan maupun karena penyiksaan yang kejam akibat tertangkap dalam usaha melarikan diri.

image

Reruntuhan Dunnottar Castle berdiri di tengah tebing yang dikelilingi North Sea

Untuk dapat masuk dan melihat isi kastil tersebut, kami harus berjalan lagi, naik turun, menyusuri jalur tangga yang tersusun rapi dan dalam kondisi yang baik. Meski terlihat mudah, berjalan di tangga ini sungguh penuh tantangan. Kondisi tangga yang basah dan agak licin karena gerimis serta angin kencang dari North Sea dan udara yang dingin benar-benar memperlambat perjalanan ini. Sepatu outdoor sangat disarankan untuk menyusuri pathway ini.

image

Sisi lain Dunnottar Castle yang menghadap lautan lepas

Perjalanan menuju kastil sangat indah. Kami disuguhkan landscape pesisir timur laut Skotlandia yang khas dengan tebing-tebing tinggi menghadap lautan luas dengan ombaknya yang menggulung-gulung ganas. Pantai-nya terdiri dari kerikil dan bebatuan bukan pasir halus seperti kebanyakan pantai di Indonesia.

Namun, kekecewaan menghampiri kami ketika sampai di depan pintu masuk kastil. Dunnottar Castle ditutup karena cuaca buruk. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hari itu memang hujan gerimis turun tak kunjung henti dan angin pun bertiup sangat kencang. Saya pun sebenarnya agak ngeri membayangkan masuk ke kawasan kastil yang ada di pinggir tebing dengan cuaca seperti itu.

image

Pintu masuk kastil dilihat dari bibir pantai yang berbatu. Harga tiket masuk untuk orang dewasa adalah 7 GBP dan anak-anak 3 GBP

Untuk menghilangkan kekecewaan, kami pun memutuskan untuk turun ke bibir pantai. Dari bawah sini, kami dapat melihat pintu masuk kastil yang tadi kami singgahi. Uniknya, terdapat papan informasi yang mencantumkan nomor telepon yang dapat dihubungi jika pengunjung melihat hewan terdampar di sepanjang pantai itu. Nampaknya pengunjung Dunnottar Castle tidak hanya laki-laki dan perempuan, anjing laut dan lumba-lumba pun sering mampir dan piknik disana ya.

Stonehaven War Memorial

Enggan berkunjung terlalu singkat, kami pun iseng berkeliling di sekitar kawasan kastil untuk melihat Dunnottar Castle dari berbagai sudut. Tak sengaja kami melihat bangunan lain di kejauhan. Selain itu, tak sedikit pula orang yang berjalan menuju ataupun kembali dari arah bangunan tersebut.

Karena penasaran, kami akhirnya meneruskan perjalanan kami untuk mengunjungi bangunan tersebut. Kami kembali menyusuri jalanan setapak berlatar pemandangan North Sea. Dengan perlahan, Dunnottar Castle kami tinggalkan di belakang. Angin masih bertiup sangat kencang sehingga membuat kami sedikit limbung saat berjalan. Tudung kepala dari jaket kami pun kami kenakan karena pipi kami mulai diterpa beku.

image

Jalur pesisir dari Dunnottar Castle menuju Black Hill War Memorial

Semakin dekat, kami dapat melihat segerombolan orang berkumpul di dekat bangunan tersebut. Rupanya bangunan itu ada di atas bukit. Kami pun harus sedikit melalui medan menanjak dengan jalan yang semakin mengecil. Sambil terus mendaki, saya memikirkan tentang fungsi bangunan tersebut. Sesaat, saya teringat pada Stone Table, tempat dimana Aslan dieksekusi oleh Penyihir Putih di film The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe. Beberapa menit setelahnya, saya berpikir bahwa itu adalah sebuah sumur. Lalu, beberapa menit setelahnya lagi, saya kembali berpikir bahwa itu adalah bekas tempat eksekusi (kali ini terbayang eksekusi menggunakan guillotene).

Semakin dekat, kami berpapasan dengan rombongan berseragam yang juga menuju bangunan tersebut. Mereka nampaknya datang dari arah berlawanan (bukan dari arah kastil). Di belakang mereka nampak beberapa orang tua berpakaian rapi membawa karangan bunga merah. Di coat mereka tersemat bros bunga poppy berwarna merah. Seorang lelaki besar memakai tartan kilt dan membawa bagpipe menyusul di belakang mereka. Tampaknya mereka akan mengadakan semacam upacara di bangunan tersebut.

Tidak ingin mengganggu, kami spontan mengambil langkah untuk menjauh. Ketika kami hendak menuruni bukit, seorang kakek dan anak perempuannya mengajak kami kembali. “It’s okay. You can join us, please” katanya sambil tersenyum ramah.

image

Suasana upacara Remembrance Sunday

Sebelum acara dimulai, kami sempat mengobrol dengan kakek itu. Beliau menanyakan asal dan pekerjaan kami, apakah kami masih sekolah atau tidak. Selain itu beliau juga sedikit menjelaskan tentang apa yang akan mereka lakukan di bangunan itu. Ternyata, kunjungan kami (tanggal 7 November 2015) bertepatan dengan Remembrance Sunday, sebuah hari yang diperingati UK dan Commonwealth bagi para pejuang yang gugur pada Perang Dunia. Monumen inilah yang dijadikan tempat bagi para masyarakat Stonehaven untuk mengadakan upacara “mengheningkan cipta” setiap tahunnya.

Sekilas monumen ini tampak seperti tidak terselesaikan atau seperti hancur akibat sesuatu. Namun, beginilah memang John Ellis, sang arsitek asal Aberdeen, mendesainnya. Hilang dan tidak lengkap, seperti hidup para pejuang yang gugur di medan perang. Dibangun pada tahun 1922, monumen ini berdiri tegak di puncak Black Hill di bagian selatan kota Stonehaven.

Upacara peringatan dimulai dengan dibunyikannya bagpipe. Angin kencang, kali ini ditemani oleh gerimis, membuat pemain bagpipe agak kewalahan menjaga keseimbangan. Satu persatu peserta upacara pun memasuki monumen untuk menaruh karangan bunga poppy.

Bunga poppy telah lama dijadikan simbol untuk tidur, kedamaian, serta kematian. Bermakna “tidur” karena opium yang dapat diekstrak dari bunga ini bersifat sedatif. Sedangkan makna “kematian” dikarenakan warnanya yang merah seperti darah. Di UK, bunga poppy buatan disematkan di pakaian mulai dari awal bulan November hingga tanggal 11 November atau Remembrance Sunday untuk memperingati pejuang yang gugur di Perang Dunia.

image

Sang Komandan Upacara dan Pemain Bagpipe dengan tartan knilt khas Skotlandia

Selepas upacara, rombongan peserta pun satu per satu meninggalkan monumen. Seperti halnya turis, kami ingin memanfaatkan momen untuk foto bersama para pasukan upacara, terutama Sang Pemain Bagpipe. Kumis lebat dan badan besar awalnya sempat membuat kami urung mengajak. Namun, saya enggan menyia-nyiakan kesempatan (kapan lagi coba saya pergi ke Stonehaven?). Kami pun akhirnya nekad menghampiri dan mengajak mereka berfoto, dan (voila!) ternyata mereka sangat ramah.

Market Square

Perut kami terasa lapar. Tak terasa memang sudah waktunya makan siang (bahkan lewat). Kami pun bergegas menuruni Black Hill menuju Market Square. Saat perjalanan menuju Dunnottar Castle tadi pagi, kami sempat melewati Market Square. Disanalah kawasan pusat pertokoan Stonehaven berada.

Menuruni Black Hill menuju Market Square, kami melewati jalur menggunakan tangga yang mengarah ke pelabuhan Stonehaven. Setelah ditinggal rombongan peserta upacara tadi, kawasan ini menjadi sangat sepi. Awalnya kami takut nyasar dan malah semakin jauh dari Market Square. Satu rombongan keluarga di depan kami pun nampaknya kebingungan karena tidak ada orang yang dapat ditanyakan arah. Bermodalkan insting (dan sok tahu), kami berjalan ke arah sebaliknya pelabuhan. Jika pelabuhan mengarah ke kanan, maka kami belok kiri. Jalanan menjadi terang ketika kami akhirnya menemukan papan penunjuk arah yang menuju ke Market Square.

image

Suasana Market Square yang lengang

Market Square, yang menjadi focal point kota Stonehaven, terlihat sangat lengang hari itu. Entah mengapa. Ataukah karena cuaca yang kurang baik membuat orang lebih nyaman berada di dalam rumah? Ataukah penduduk kota memang sedikit jumlahnya? Entahlah, yang jelas perut kami keroncongan.

Tidak jauh dari lokasi saya berfoto ada sebuah restauran fish and chips bernama The Square. Terletak di pinggir laut, Stonehaven memang menjadi sebuah kota pelabuhan yang tak lepas dari hasil melautnya. Jadi wajar saja jika fish and chips menjadi makanan yang wajib dicoba di kota ini.

Restauran ini terbagi menjadi dua lantai. Lantai 1 khusus untuk take away sedangkan lantai 2 menjadi tempat para tamu yang ingin dine-in. Menu andalan di restauran ini adalah ikan haddock. Ditemani secangkir coklat panas bertabur marshmallow, kami pun menikmati Spicey Haddock. Porsinya besar dan rasanya lezat. Freshly cooked dan rasa pedasnya terasa pas di lidah. Saya yang sebenarnya kurang menyukai fish and chips (di Jakarta) malah bisa menghabiskan sepiring besar ini dengan lahap.

image

Makan siang (besar) kami: Spicey Haddock dan Hot Chocolate with Marshmallow

Perut kenyang, badan lelah, hujan deras, serta hari makin senja. Musim gugur membawa pergi matahari lebih awal dibandingkan waktu Jakarta. Sudah saatnya kami kembali ke Aberdeen. Dari jendela restoran kami melihat bis X7 semakin dekat dengan Market Square. Hujan deras di luar kami tembus sambil berlari menuju bus stop terdekat (untung jaket saya waterproof).

Pintu bis sudah ditutup dan bis sudah dijalankan tepat ketika kami sampai bus stop. Melihat kami yang kepayahan, sang supir bis berhenti dan membiarkan kami masuk. Supir bis yang baik hati itu ternyata merupakan supir yang sama dengan pengendara bis yang tadi pagi kami tumpangi menuju Dunnottar Castle.

Perlahan tapi pasti, Stonehaven mulai kami tinggalkan. Stonehaven bagi saya merupakan sebuah kota yang sepi nan-historis dengan keindahan khas pesisir. Kunjungan ke kota ini sangat berkesan, seperti melihat sisi pedesaan Skotlandia yang jauh dari hiruk pikuk kota-kota besar. Kami bertemu dengan orang-orang baru yang ramah dan tak sedingin (orang Skotlandia) yang banyak dibicarakan orang. So, don’t judge the book by its cover 🙂

Aberdeen (Minggu 2)

A City Tour Part 2 – 13 November 2015

Aberdeen ternyata punya berbagai tempat menarik untuk dikunjungi yang tentunya tidak bisa ditamatkan dalam satu hari dan dengan berjalan kaki. Seminggu setelah city tour yang pertama, saya menyempatkan untuk berkeliling Aberdeen sekali lagi sebelum pergi meninggalkan kota ini.

Judulnya adalah Jalan-Jalan Sore karena memang saya lakukan sore hari dan memang benar-benar JALAN. Tujuan utama saya adalah Duthie Park dan Winter Gardens. Setelah itu, saya pergi ke Union Square karena janji dengan seorang teman untuk berbelanja disana.

Old Deeside Railway Line, Duthie Park dan David Welch Winter Gardens

image

Bekas jalur kereta yang kini biasa dijadikan track untuk jogging maupun bersepeda

Old Deeside Railway Line merupakan bekas jalur kereta yang terbentang sejauh 66 kilometer dari Aberdeen hingga Aberdeenshire. Jalur kereta ini dibuka pada tahun 1853 dan ditutup pada tahun 1966. Sekarang, jalur ini telah berubah menjadi  Deeside Way dan biasa digunakan warga Aberdeen untuk jogging, bersepeda bahkan berkuda.

Honestly, saya mengetahui jalur ini dari Google Maps karena saat itu saya mencari jalan tercepat untuk berjalan kaki dari penginapan saya menuju Duthie Park. Saya baru mengetahui bahwa jalur yang saya lewati merupakan bekas jalur kereta setelah saya menemukan tanda Deeside Way di sisi jalan.

Deeside Way berujung di Duthie Park. Dibuka pada tahun 1883, lahan taman ini dihibahkan oleh Miss Elizabeth Crombie Duthie of Ruthrieston sebagai bentuk memorial bagi paman dan saudara laki-lakinya. Taman ini terkenal dengan David Welch Winter Gardens-nya, dimana terdapat koleksi berbagai tanaman tropis dan kaktus.

image

Koleksi bunga di rumah kaca David Welch Winter Gardens

Dengan luas 44 acre, Duthie Park dapat dibilang sebagai ruang terbuka yang luas. Sebagian besar area taman ini ditutupi rumput hijau. Banyak warga yang membawa anak dan/atau anjing mereka untuk bermain di taman ini. Di tengah taman terdapat sebuah band-stand bergaya Victoria yang sudah ada sejak tahun 1893.

image

Suasana sore hari yang cerah (pada musim gugur) di Duthie Park

Di bagian barat taman ini terdapat danau yang dahulu sangat populer sebagai tempat untuk berperahu. Dinamakan The Linked Lake, danau ini sebenarnya menghubungkan 3 bagian danau, upper (sebagai boating pond), middle, dan lower. Saat saya kesana sedang diadakan restorasi terhadap danau ini.

Karena hari semakin senja, saya melanjutkan perjalanan saya menyusuri River Dee. Pemandangan di sepanjang sungai ini nyaman untuk dipandang. Langit sore itu bersih dan warna senja benar-benar tergambar. Banyak warga yang jogging atau pun sekadar berjalan-jalan bersama keluarga dan anjing mereka.

image

River Dee dan jembatan tertua di Skotlandia

Dari kejauhan, saya bisa melihat Bridge of Dee. Dibangun pada abad ke-16, jembatan ini menjadi yang tertua di Skotlandia. Dapat terlihat bahwa jembatan ini terdiri dari 7 busur dengan lebar masing-masing 50 kaki. Bridge of Dee menghubungkan jalan dari Aberdeen menuju Stonehaven di Aberdeenshire.

Union Street dan Union Square

Saya menyebrangi Bridge of Dee untuk bisa naik bis menuju Union Square. Namun karena bis yang saya tunggu terlalu lama dan hari sudah semakin malam, akhirnya saya memutuskan untuk memanggil taksi.

Hingga pada akhirnya sampailah saya di Union Square. Bicara tentang Union Square, tidak mungkin lepas dari Union Street. Union Street merupakan jalan utama kota Aberdeen dimana sepanjang jalannya terdapat pertokoan, restoran, bank, dan gereja. Berbagai brand ternama seperti Marks and Spencer, Hugo Boss, Debenhams, dan lainnya mendirikan toko mereka di Union Street. Brand ternama lainnya dapat juga ditemukan di berbagai shopping center yang (masih) berada di Union Street.

Saya di depan Gilcomston South Church di Union Street

Salah satu shopping center yang saya kunjungi bersama teman adalah Union Square. Tujuan utama kami adalah T.K.Maxx. Alasannya sederhana: DISCOUNT. Mereka menjual berbagai macam pakaian, dari kaos, sweater, sampai winter coat serta sepatu boots. Saya juga mengenali beberapa brand ternama (meskipun sepertinya stock lama) dijual dengan harga miring (dibandingkan dengan harga rata-rata di toko). Prinsip-nya mungkin seperti factory outlet di Indonesia. Selain pakaian, mereka juga menjual berbagai macam tas, hingga coklat.

Selain T.K. Maxx, ada juga toko Cath Kidston, H&M, Superdry, Fossil, Next, dll. Teman saya dari Angola sampai memborong banyak di H&M (katanya karena di Angola belum ada H&M). Harga H&M-nya saya rasa hampir mirip dengan harga di Indonesia. Saya juga sempat menonton James Bond: Spectre yang saat itu baru release. Rasa penasaran membuat saya rela membayar 10 GBP untuk tiket film itu. Tapi di tengah film, saya malah tertidur. Hiks.

Pengalaman lain di Union Street yang tidak kalah menarik adalah saat saya mencoba restoran Spanyol dan Polandia. Meskipun saya lupa nama makanannya, tapi saya ingat bahwa rasanya sangat unik. Begitu juga dengan dekorasi restoran dan cara penyajian makanannya. Saya sangat terkesan dengan service di restoran Polandia. Pelayannya sangat ramah dengan bahasa Inggrisnya yang mudah dimengerti (karena saya rasa dia adalah orang asli Polandia).

Mencoba kuliner khas Spanyol

Restoran Polandia dan rasa makanannya yang unik

Sekian cerita saya selama di Aberdeen. Tinggal selama 2 minggu disana menimbulkan kesan tersendiri untuk saya. Saya bertemu dengan banyak orang baru dengan sifatnya yang beragam, melihat budaya baru, pergi ke tempat-tempat baru (tidak lagi gunung dan pantai), menghadapi cuaca baru dengan suhu terendah yang pernah saya alami sebagai orang tropis, dan bahkan bertemu dengan badai.

Tanggal 14 November saya pergi pagi sekali menuju Union Square Bus Station untuk melanjutkan perjalanan saya ke ibu kota Skotlandia, Edinburgh. Saya harap saya bisa segera menuangkannya di part lain dari UK series ini.

Thanks for reading 😀

Aberdeen (Minggu 1)

Aberdeen, terkenal juga sebagai the Granite City, merupakan salah satu kota terkenal di Skotlandia. Dikenal sebagai the Granite City karena sebagian besar bangunannya terbuat dari granit abu-abu. Beberapa referensi mengatakan bahwa pada musim panas kota ini terlihat sangat indah karena granit-granit ini, yang banyak mengandung mika, dapat memantulkan cahaya matahari.

Pada November 2015, saya mendapat kesempatan untuk pergi ke kota ini selama 2 minggu. Di bulan ini, musim di Aberdeen memasuki late autumn. Didominasi oleh hujan, angin, dan mendung membuat Aberdeen terlihat “gelap”. Suhu terendah yang pernah saya alami selama di sana mencapai 2.5 deg C (cukup membuat saya, orang tropis, menggigil di hari-hari pertama).

Penginapan saya, berada di Great Western Road, yang letaknya tidak jauh dari city center Aberdeen. Namanya adalah The Spires. Konsep penginapan ini lebih seperti apartemen dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruang TV, dan dapur. Di dapur juga tersedia mesin cuci pakaian dan mesin cuci piring.

image

Dapur dan peralatannya yang lengkap di The Spires

Aberdeen’s Fireworks Display – 5 November 2015

Untuk menyambut musim dingin, Aberdeen mengadakan event besar, yaitu the Winter Festival. Festival ini dibuka dengan perayaan kembang api pada tanggal 5 November 2015. Karena saya tidak kebagian taksi, karena sudah full booked, akhirnya saya memutuskan untuk naik bis (kira-kira 2.2 GBP sekali jalan) ke Union Street (di City Center) dan melanjutkan dengan berjalan kaki ke Beach Esplanade tempat berlangsungnya fireworks display ini.

Union Street dipadati rombongan yang berjalan kaki menuju Beach Esplanade. Pertokoan yang biasanya tutup pada jam 17.00 GMT, pun buka sampai lebih larut (mungkin juga karena hari itu adalah Kamis, yang katanya merupakan hari berbelanja Aberdeen).

Beach Esplanade dapat diraih dengan 20 menit berjalan kaki. Layaknya festival pada umumnya, kawasan ini padat para calon penonton dan penjual kios-kios makanan, seperti hot dog, kopi hangat, fish and chips, dll. Atraksi Fire Juggling pun telah lebih dulu dimulai sebagai bentuk pembukaan.

Tepat pukul 19.30 GMT, fireworks display dimulai. Meskipun hujan disertai angin kencang dari North Sea, dinginnya tidak begitu terasa dibandingkan melihat warna-warni kembang api (sepertinya saya tidak pernah melihat kembang api semenarik itu di Indonesia).

image

Aberdeen’s Firework Display yang tetap meriah di tengah hujan

Selepas 20 menit berlangsung, firework display pun usai. Tak terasa perut mulai berbunyi karena belum sempat makan malam. Saya pun pergi ke sebuah restauran mie di Union Street. Pada awalnya saya sudah membayangkan mie kuah yang hangat dan gurih (seperti In**mie), namun begitu mie-nya datang tidak ada kuah dan rasa gurih. Mie di restauran ini seperti mie diguyur topping (sesuai selera anda, misalnya barbeque, king prawn, etc) dan rasanya manis. Lumayan untuk mengganjal perut meskipun rasanya berbeda dengan selera mie di Indonesia.

Aberdeen City Tour – 7 November 2015

A weekend well-spent.

Cerita weekend saya dihabiskan untuk berkeliling kota Aberdeen. Tujuan saya kali ini adalah Aberdeen Maritime Museum, Footdee, dan University of Aberdeen. Kalau mau hemat dana, kita bisa saja berjalan kaki sambil melihat-lihat pemandangan. Namun, pilihan ini kurang tepat jika ingin menghemat waktu atau di kala sedang hujan atau angin kencang atau bahkan udara sangat sedang dingin. Sebagai jalan tengahnya, kita bisa memilih naik bis.

Tiket bis bisa dibeli langsung di supir bis pada saat kita naik. Biaya yang dibutuhkan berkisar antara 2-3 GBP dari tempat menginap saya di Great Western Road menuju City Center Union Street (menggunakan First Platinum no 19; kalau menggunakan Stagecoach 201 atau 202 bisa lebih murah). Uang pas sangat disarankan jika ingin membeli tiket langsung ke supir bis karena supir bis tidak menyediakan kembalian (kecuali untuk Stagecoach). Oiya, untuk mengetahui rute bis menuju tempat tujuan, saya biasanya memilih menggunakan bantuan Google Maps.

Aberdeen Maritime Museum

Tujuan pertama saya adalah Aberdeen Maritime Museum karena lokasinya dekat sekali dengan pusat kota. Museum ini berada di Shiprow, dekat dengan pelabuhan. Saya naik bis ke Union Street, turun di Broad Street Bus Stop, dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Museum ini (begitu juga dengan museum-museum lain di UK pada umumnya) buka pada jam 10.00 GMT (Senin-Sabtu, Minggu buka jam 12.00 GMT) dan free admission, alias GRATIS.

Aberdeen Maritime Museum berisi koleksi-koleksi yang menceritakan cerita antara Aberdeen dan North Sea, salah satunya adalah bidang perminyakan, cocok dengan bidang pekerjaan saya. Beberapa koleksinya antara lain ROV (Remotely Operated Vehicle), replika platform, diving suit (untuk bekerja di bawah laut, misalnya pengelasan kaki-kaki platform), hingga dokumentasi bencana Piper Alpha.

image

Salah satu koleksi diving suit di Aberdeen Maritime Museum

Dari pintu masuk, saya langsung menuju resepsionis untuk mengisi buku tamu serta bertanya beberapa hal mengenai museum ini, terutama ketentuan berkeliling museum ini (misalnya izin mengambil foto). Pengambilan foto diperbolehkan kecuali untuk beberapa event exhibition tertentu.

image

Pelabuhan terlihat dari jendela (di bangunan bekas gereja) Aberdeen Maritime Museum

image

Berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah dunia pelayaran

Di lantai dasar juga tersedia museum shop, jika ingin berbelanja souvenir khas Aberdeen Maritime Museum, serta museum cafe yang cukup nyaman.

Footdee (Fittie)

Footdee, dikenal juga sebagai Fittie, merupakan sebuah daerah pemukiman nelayan yang terletak di ujung timur pelabuhan Aberdeen.

Dalam kondisi hujan gerimis dan dingin, akhirnya saya memulai perjalanan jalan kaki saya menuju Footdee dari Aberdeen Maritime Museum dengan menyusuri jalan di samping pelabuhan. Menurut perkiraan Google Maps, waktu yang harus ditempuh kesana sekitar 24 menit.

Awalnya saya ragu untuk meneruskan perjalanan saya ke Footdee karena kawasan ini dapat dibilang sepi pejalan kaki. Saya juga harus melalui kawasan industri perkapalan dan gudang-gudang penyimpanan logistik industri perminyakan. Tapi niat untuk melihat rumah-rumah unik di Footdee menguatkan saya untuk terus berjalan (selama Google Maps masih menemani). Akhirnya jalanan pun mulai terasa ramai ketika saya melewati gate pelabuhan (nampaknya ada kapal yang akan berangkat).

Setelah berjalan kira-kira 10 menit dari gate pelabuhan tersebut, sampai lah saya di Footdee. Well, kawasan ini sangat sepi. Hampir tidak ada orang yang lalu lalang (mungkin karena waktu itu sedang gerimis). Yang menarik dari kawasan pemukiman ini adalah rumah-rumahnya yang mungil dan penuh dekorasi.

image

Rumah-rumah mungil lengkap dengan dekorasi unik khas Footdee

Di ujung pemukiman ini, saya dapat melihat pertemuan antara River Dee dengan North Sea. Nampaknya jalur ini pula lah yang menjadi akses masuk dan keluar kapal-kapal di pelabuhan. Di sini juga lah anda dapat menemukan Footdee War Memorial dan Aberdeen Dock Labourers Memorial.

Footdee War Memorial merupakan tugu sederhana yang terbuat dari granit yang berfungsi sebagai tugu peringatan bagi korban Perang Dunia I dan juga Perang Dunia II. Sedangkan Aberdeen Dock Labourers Memorial terdiri atas 2 panel yang masing-masing berisikan nama, inisial, dan kesatuan unit para korban perang. Panel atas berisikan nama para korban Perang Dunia I, sedangkan panel bawah untuk korban Perang Dunia II.

image

Pertemuan antara River Dee dan North Sea

University of Aberdeen

Saya kembali ke Union Street untuk mencari makan siang. Setelah perut saya kenyang, saya berniat untuk mencari souvenir khusus Aberdeen. Saya akhirnya pergi ke Scotland’s Bothy di George Street.

Scotland’s Bothy menjual berbagai macam souvenir khas Skotlandia, mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, wool, sampai kilt, rok tradisional pria khas Skotlandia. Karena budget yang terbatas, saya hanya membeli beberapa magnet kulkas seharga 2-3 GBP per buah. Toko ini buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 5 sore, kecuali hari Kamis (09.00-19.00) dan Minggu (12.00-16.00).

Beranjak dari Scotland’s Bothy, perjalanan dilanjutkan menuju University of Aberdeen. Universitas ini cukup tenar dan digandrungi teman-teman saya yang memilih melanjutkan post graduate di bidang perminyakan. Dari Scotland’s Bothy saya membutuhkan 20 menit berjalan kaki menuju universitas tertua ketiga di Skotlandia ini.

Universitas ini merupakan gabungan antara King’s College dan Marischal College. Saat ini King’s College merupakan gedung utama yang digunakan untuk aktivitas perkuliahan. Bangunan-bangunan perkuliahan King’s College terkenal dengan arsitekturnya, salah satunya adalah King’s College Chapel, kapel utama yang digunakan oleh University of Aberdeen.

image

King’s College Chapel

Menurut saya, kawasan University of Aberdeen ini merupakan kawasan yang tenang dan nyaman. Banyak terdapat taman dengan bangunan-bangunan berarsitektur kuno yang indah. Rasanya menyenangkan kalau bisa bersekolah di sini. Karena saya berkunjung di hari Sabtu, kawasan kampus ini cukup sepi, namun saya masih melihat beberapa mahasiswa berkeliaran di sekitaran kampus. Rasanya jadi rindu masa-masa kuliah.

Tidak jauh dari King’s College Chapel, terdapat Cathedral Church of St. Machar. Konon katanya, (hanya) lengan William Wallace dikuburkan di dinding gereja ini. Gereja ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi beberapa uskup Aberdeen.

image

Cathedral Church of St. Machar

Perjalanan keliling kota Aberdeen saya akhiri di depan Sir Duncan Rice Library. Perpustakaan milik University of Aberdeen ini dibuka dan diresmikan pada tahun 2012. Arsitekturnya yang modern terlihat stand out di antara konsep bangunan lain di sekitarnya. Dari depan perpustakaan ini, saya bisa naik bis no. 19 langsung menuju tempat saya menginap di Great Western Road.

image

Perpustakaan Sir Duncan Rice